Dokumenter Melania Trump berjudul “Melania” tayang perdana pada akhir Januari 2026. Film ini langsung menarik perhatian luas. Meski mencatat pendapatan box office yang kuat, ulasan dari kritikus justru dominan negatif. Rotten Tomatoes mencatat skor kritikus hanya 6-11 persen, sementara audiens memberi 99 persen. Kontras ini memicu perdebatan sengit. Apa sebenarnya yang membuat dokumenter ini kontroversial?

Artikel ini menganalisis alasan di balik respons negatif tersebut. Kamu akan menemukan detail produksi, kritik spesifik, dan faktor eksternal yang memengaruhi. Dokumenter Melania Trump ulasan negatif menjadi topik hangat karena campuran politik, biaya produksi tinggi, dan narasi yang dianggap bias. Selain itu, film ini menyoroti dinamika media modern. Mari telusuri lebih dalam untuk memahami fenomena ini.

Latar Belakang Produksi Dokumenter ‘Melania’

Amazon MGM Studios memproduksi “Melania” dengan anggaran mencapai 75 juta dolar AS. Angka ini termasuk 40 juta untuk hak dan 35 juta untuk pemasaran. Film ini mengikuti 20 hari Melania Trump sebelum inagurasi kedua Donald Trump pada 2025. Sutradara Brett Ratner kembali ke industri setelah absen panjang akibat tuduhan pelecehan seksual pada 2017, yang ia bantah.

Ratner memilih gaya visual mewah. Ia gunakan segmen Super 8 untuk ciptakan aura era Kennedy. Soundtrack penuh lagu-lagu aneh yang terkait perang, tuduhan palsu, seks, dan kekuasaan. Melania Trump terlibat aktif sebagai produser eksekutif. Narasi voice-over dominan, penuh kata-kata motivasi seperti buku self-help.

Biaya tinggi ini memicu kritik awal. Beberapa media sebut film sebagai “suap besar” untuk akses politik. Jimmy Kimmel bahkan sebut anggaran itu sebagai “suap” dalam monolognya. Produksi ini tampak lebih fokus pada citra daripada substansi. Hal ini jadi dasar banyak ulasan negatif.

Premiere dan Respons Awal di Box Office

“Melania” tayang di lebih dari 1.500 bioskop AS pada pekan pertama. Pendapatan akhir pekan debut capai jutaan dolar, lampaui ekspektasi. Hingga Februari 2026, film raup lebih dari 10 juta dolar. Amazon ekspansi cepat ke 2.000 bioskop tambahan. Sumber studio sebut ini sukses terbesar untuk dokumenter dalam satu dekade.

Namun, premiere justru picu gelombang negatif. Di Letterboxd, pengguna review-bomb film sebelum tayang. Banyak tulis, “Saya tak tonton, tapi ingin jadi film terburuk sepanjang masa.” Lain sebut, “Tak akan bajak pun. Hanya pastikan rating terendah.” Di Australia, penonton hanya 4 persen penuh, sebut sebagai flop terbesar.

Kontras muncul di X. Akun pro-Trump rayakan sukses. Satu post sebut film lampaui dua film Obama dan lima nominasi Oscar. Sementara oposisi soroti vandalisme iklan bus di Los Angeles. Premiere jadi barometer politik, tapi ulasan negatif dominasi diskusi.

Kritik Utama dari Para Kritikus Film

Kritikus sebut “Melania” sebagai propaganda murni. The Hollywood Reporter deskripsikan sebagai “fawn job” yang berlebihan, dengan adegan staged dan soundtrack aneh. Mereka bilang film mirip hagiografi, penuh pujian tanpa kritik. Grafik akhir daftar prestasi Melania seperti iklan politik Korea Utara.

Vanity Fair sebut tone sulit bedakan dari satire. Meski produksi mahal, narasi tetap politis dan tak autentik. Mereka bandingkan Ratner dengan Leni Riefenstahl, pembuat film propaganda Nazi. Empire beri satu bintang, sebut transparan seperti “Triumph of the Will”. Dialog Melania penuh adjektif antusias, tapi tak ungkap kedalaman.

Variety panggil “cheeseball infomercial” tanpa drama. Adegan repetitif, fokus fitting baju dan dekorasi. Film tak hidup, mirip outtakes reality show. The Guardian sebut “dua jam neraka tak berujung”, dengan glamour mengganggu dan tamu mimpi buruk. BuzzFeed catat detail menarik hanya soal waktu pindah furnitur inagurasi.

The Atlantic sebut film “disgrace”, lambat dan tak ada aksi. Mereka tuding sebagai “protection racket” untuk elite. The Daily Beast anggap “terrible”, dengan adegan lucu tak sengaja tapi keseluruhan abomination. Kritik ini soroti kurangnya kedalaman, buat dokumenter Melania Trump ulasan negatif mendominasi.

Faktor Kontroversial di Balik Layar

Sutradara Brett Ratner jadi sumber kontroversi utama. Ia absen lama karena tuduhan pelecehan, terkait Jeffrey Epstein pula. Pemilihan Ratner dipertanyakan, sebut tambah nuansa negatif. Mother Jones laporkan review hilang di Letterboxd setelah banjir negatif.

Biaya 75 juta jadi sorotan. Kritikus sebut berlebihan untuk dokumenter, implikasikan motif politik. Amazon bayar 28 juta fee pribadi Melania. Ini sebut sebagai bentuk konsolidasi kekuasaan melalui hiburan.

Kontroversi lain muncul di teater independen. Di Oregon, marquee mock film seperti “To defeat your enemy, you must know them”. Amazon batalkan penayangan. Ini tunjukkan sensitivitas distributor terhadap kritik. Faktor ini perkuat persepsi bias, tambah alasan ulasan negatif.

Di X, post sebut Amazon tarik film setelah marquee bikin marah eksekutif. Sementara, viewership dokumenter Michelle Obama naik 13.000 persen di Netflix, capai 47,5 juta menit dalam dua hari. Ini jadi bentuk protes diam terhadap “Melania”.

Perbandingan Respons Audiens dan Kritikus

Rotten Tomatoes tunjuk kontras ekstrem. Skor kritikus 11 persen, tapi audiens verifikasi 99 persen. Pendukung Trump sebut ini bukti bias media. Mereka rayakan standing ovation di bioskop.

Kritikus argumen film tak prihatin Amerika hari ini, tapi propaganda untuk non-demokrasi masa depan. The Independent sebut transparan bukan dokumenter sejati. Globe and Mail panggil kronik ekses abad 21, penuh keserakahan.

Di X, akun konservatif seperti NEWSMAX promosi sukses box office, raup 1 juta per hari. Sementara oposisi sebut rating audiens dari basis Trump saja. Perbandingan ini polarisasi diskusi, buat dokumenter Melania Trump ulasan negatif jadi isu lebih luas.

Implikasi Lebih Luas untuk Industri Film dan Politik

“Melania” tunjukkan bagaimana dokumenter bisa jadi alat politik. Kritikus sebut ini era baru di mana hiburan konsolidasi kekuasaan. The Atlantic catat, film ini ungkap busuk industri hiburan. Biaya tinggi dan distribusi luas sebut sebagai strategi pengaruh pemilu.

Bandingkan dengan dokumenter lain seperti “Ask E. Jean”, yang tak tayang karena tuntutan. Ini soroti ketidakseimbangan akses. Di sisi lain, surge Michelle Obama tunjukkan audiens cari narasi alternatif.

Implikasi untuk SEO dan media digital juga besar. Kata kunci seperti dokumenter Melania Trump ulasan negatif dorong trafik. Namun, konten harus berbasis fakta untuk hindari misinformasi. Film ini jadi studi kasus bagaimana ulasan negatif bisa tingkatkan visibilitas.

Selain itu, kontroversi Ratner ingatkan isu #MeToo. Pemilihannya dipertanyakan, tambah lapisan etis. Secara keseluruhan, “Melania” refleksikan polarisasi masyarakat AS pasca-2024.

Kesimpulan

Dokumenter Melania Trump ulasan negatif dominan karena dianggap propaganda, kurang kedalaman, dan kontroversi produksi. Meski sukses box office, kritik dari Hollywood Reporter hingga The Guardian soroti narasi bias dan eksekusi membosankan. Kontras dengan respons audiens tunjukkan divide politik dalam hiburan.

Jika penasaran, tonton film ini dan buat opini sendiri. Bagikan pemikiranmu di komentar. Apakah ulasan negatif adil, atau bias media? Diskusi ini penting untuk pahami dinamika film politik modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *