Pernah nggak sih kamu lagi asyik chat sama seseorang, hubungan terasa manis, tiba-tiba dia menghilang begitu saja? Chat dibaca tapi nggak dibales, telepon nggak diangkat, sosial media pun sepi. Kamu nunggu berhari-hari, berminggu-minggu, tapi nggak ada kabar. Itulah ghosting, dan rasanya sakit banget.
Banyak orang bilang, korban ghosting sulit move on dibanding putus biasa yang ada penjelasannya. Kenapa ya kok bisa begitu? Kamu mungkin sering bertanya-tanya sendiri, “Apa salahku? Kenapa dia pergi tanpa bilang apa-apa?” Perasaan menggantung ini bikin hati susah lepas.
Di artikel ini, kita bahas kenapa korban ghosting sulit move on, plus beberapa cara praktis buat bangkit lagi. Karena percaya deh, kamu nggak sendirian, dan pasti ada jalan keluarnya.
Apa Itu Ghosting dan Kenapa Sekarang Sering Banget Terjadi?
Ghosting itu saat seseorang tiba-tiba memutus komunikasi tanpa alasan atau penjelasan. Nggak ada “Maaf, aku nggak bisa lanjut” atau “Kita putus ya”. Langsung lenyap seperti hantu.
Di era dating app seperti Tinder atau Bumble, ghosting makin marak. Orang mudah ketemu, mudah juga pergi. Nggak perlu ketemu muka, cukup blokir atau ignore. Tapi dampaknya ke korban? Berat banget.
Menurut psikolog, ghosting beda dari putus biasa karena nggak ada closure. Saat putus normal, kamu tahu alasannya—mungkin beda visi atau ada orang lain. Kamu bisa marah, nangis, lalu pelan-pelan terima. Tapi ghosting? Semua menggantung. Otak kamu terus mencari jawaban yang nggak pernah datang.
Perbedaan Ghosting dengan Putus Biasa
Bayangin putus biasa seperti pintu ditutup rapat. Kamu tahu hubungan selesai, bisa kunci pintu itu dan jalan terus. Tapi ghosting? Pintunya setengah terbuka, angin masuk, kamu terus melongok berharap dia balik.
Inilah yang bikin korban ghosting sulit move on. Rasa sakitnya lebih lama karena ketidakpastian. Kamu nggak cuma kehilangan orangnya, tapi juga kehilangan penjelasan. Akibatnya, kamu sering menyalahkan diri sendiri: “Apa aku kurang cantik? Kurang lucu? Apa aku terlalu clingy?”
Penelitian dari Psychology Today bilang, penolakan sosial seperti ghosting bisa aktifkan area otak yang sama saat merasakan sakit fisik. Makanya rasanya sesak di dada beneran.
6 Penyebab Utama Korban Ghosting Sulit Move On
Sekarang kita masuk ke intinya. Ini dia alasan-alasan kenapa korban ghosting sulit move on, berdasarkan pengalaman banyak orang dan pandangan psikolog.
1. Nggak Ada Closure Sama Sekali
Ini penyebab nomor satu. Manusia butuh penutupan buat melanjutkan hidup. Kayak nonton film yang endingnya menggantung—kamu kesel kan? Begitu juga hubungan.
Tanpa penjelasan, otak kamu terus muter ulang kenangan. “Kemarin masih baik-baik aja, kok tiba-tiba hilang?” Kamu berharap suatu hari dia muncul kasih alasan. Harapan palsu ini bikin kamu stuck.
2. Ketidakpastian yang Bikin Overthinking
Ghosting penuh ambiguitas. Kamu nggak tahu dia beneran pergi atau cuma sibuk. Akhirnya, kamu analisis setiap chat terakhir, setiap momen bareng. “Apa karena aku bilang gitu ya?”
Overthinking ini melelahkan. Kamu jadi susah tidur, konsentrasi kerja buyar. Semakin lama, semakin dalam kamu tenggelam dalam pikiran sendiri.
3. Harga Diri Terluka Parah
Dighosting terasa seperti ditolak total. Kamu merasa nggak layak dapat penjelasan sederhana. Ini bikin self-esteem anjlok. Kamu mulai ragu sama nilai diri sendiri.
Banyak korban ghosting bilang, “Aku ngerasa nggak berharga.” Padahal, ghosting lebih nunjukin kepengecutan pelaku, bukan kekurangan kamu.
4. Emosi Campur Aduk Sulit Diproses
Ada marah, sedih, bingung, malu—semua datang barengan. Saat putus biasa, emosi ini bisa kamu arahkan ke orangnya. Tapi ghosting? Nggak ada targetnya. Emosi numpuk di dalam, bikin susah dilepas.
Kadang muncul rasa malu karena cerita ke teman, tapi nggak ada ending jelas. Rasanya kayak gagal total.
5. Memicu Masalah Attachment Lama
Kalau kamu punya attachment style anxious—gampang takut ditinggal—ghosting bakal bikin trauma lama kambuh. Kamu jadi makin takut buka hati lagi.
Psikolog bilang, ghosting bisa mirip ambiguous loss, seperti kehilangan orang yang masih hidup tapi nggak ada. Otak susah proses kehilangan yang nggak jelas.
6. Rasa Kehilangan Kontrol atas Hidup Sendiri
Hubungan berakhir tiba-tiba tanpa kendali kamu. Ini bikin merasa powerless. Kamu yang biasanya bisa atur hidup, tiba-tiba dikendalikan orang lain yang bahkan nggak kelihatan.
Efeknya, kamu jadi ragu buat deket sama orang baru. Takut terulang lagi.
Cara Ampuh Move On dari Ghosting
Meski berat, korban ghosting bisa move on kok. Ini beberapa tips yang banyak membantu orang:
- Terima bahwa nggak akan ada jawaban — Buat closure sendiri. Tulis surat yang nggak dikirim, bilang semua yang mau kamu bilang.
- Blokir dan hapus kontaknya — Biar nggak tergoda cek profilnya. Out of sight, out of mind.
- Curhat ke teman atau keluarga — Jangan pendam sendiri. Cerita bikin beban lebih ringan.
- Fokus self-love — Olahraga, hobi baru, ketemu teman. Bangun lagi kepercayaan diri yang sempat runtuh.
- Ingat, ini bukan salahmu — Ghosting adalah pilihan pelaku karena nggak berani komunikasi. Kamu layak dapat yang lebih baik.
- Kalau berat banget, konsultasi psikolog — Nggak ada salahnya minta bantuan profesional.
Pelan-pelan, kamu bakal sadar bahwa orang yang pergi tanpa bilang apa-apa sebenarnya nggak pantas buat kamu.
Kesimpulan
Intinya, korban ghosting sulit move on karena nggak ada closure, ketidakpastian, luka harga diri, dan emosi yang numpuk. Tapi ingat, waktu akan menyembuhkan. Kamu kuat, dan suatu hari nanti, pengalaman ini cuma jadi cerita lucu masa lalu.
Kalau kamu lagi ngalamin ini, semangat ya! Kamu berhak bahagia dengan orang yang menghargai komunikasi. Share pengalamanmu di komentar kalau mau, siapa tahu bisa saling menguatkan.


