Generasi muda Indonesia kembali membuktikan kreativitasnya melalui kompetisi CTARSA Youth Greenovation 2026. Ajang ini, yang diselenggarakan CTARSA Foundation bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan KANIK, berhasil menyaring ratusan ide inovatif dari pelajar SMA/SMK/MA se-Indonesia. Fokus utama kompetisi adalah mengolah limbah menjadi produk bernilai guna, sekaligus mendukung ekonomi sirkular dan pelestarian lingkungan.
Grand final berlangsung pada 29 Januari 2026 di Aula Barat ITB, Bandung. Dari lebih 180 proposal awal, 10 tim finalis mempresentasikan karya mereka secara langsung. Dewan juri memilih tiga pemenang CTARSA Youth Greenovation 2026 yang paling inovatif, feasible, dan berdampak besar. Ketiga inovasi ini tidak hanya menyabet gelar juara, tetapi juga menawarkan solusi nyata terhadap masalah lingkungan sehari-hari.
Inovasi pemenang mencakup platform ekonomi berbagi, material akustik dari limbah sawit, hingga kertas alternatif dari gulma. Mereka selaras dengan agenda nasional menuju Indonesia Emas 2045 dan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan 12 tentang konsumsi dan produksi bertanggung jawab.
Mengenal CTARSA Youth Greenovation 2026
CTARSA Foundation, yang didirikan dengan visi meningkatkan pendidikan dan kesehatan, menggelar kompetisi ini untuk memberi beasiswa dan panggung bagi pelajar berbakat. Tema tahun ini menekankan daur ulang limbah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Peserta berasal dari berbagai daerah, membuktikan inovasi tidak terbatas pada kota besar.
Proses seleksi ketat meliputi submission video, proposal, presentasi online, hingga babak final offline. Semua finalis mendapat dukungan akomodasi dan kunjungan inspiratif ke pabrik KANIK serta Trans Studio Bandung. Sekjen CTARSA Foundation, Latief Harnoko, menegaskan bahwa generasi muda hari ini mampu menciptakan solusi teknologi dan bioteknologi yang luar biasa.
Kompetisi ini juga menyerahkan lampu inovatif “Habibie” dari KANIK untuk fasilitas pendidikan, simbol keberlanjutan yang berkelanjutan.
Juara 1: Pinjam Barang – Platform Ekonomi Berbagi yang Kurangi Limbah Konsumsi
Jason Xia, siswa kelas XII SMA Olifant Yogyakarta, meraih juara pertama dengan inovasi Pinjam Barang. Platform digital ini memungkinkan pengguna meminjam barang kebutuhan sehari-hari, seperti peralatan kerja, alat rumah tangga, atau perlengkapan olahraga.
Ide muncul dari pengalaman pribadi Jason. Saat lampu rumahnya mati, ia kesulitan meminjam tangga dari tetangga karena kurangnya interaksi di lingkungan perkotaan. Jason menyadari banyak orang membeli barang baru hanya untuk penggunaan sementara, yang akhirnya menjadi limbah.
Pinjam Barang bekerja seperti aplikasi ride-hailing, tetapi untuk barang. Pengguna mendaftar, mencari barang terdekat, lalu mengajukan pinjaman dengan jaminan sederhana. Sistem rating dan verifikasi memastikan keamanan. Inovasi ini mendukung sharing economy, mengurangi produksi barang baru, dan menekan emisi karbon dari manufaktur.
Jason bangga karena solusinya menyentuh masalah urban yang dialami banyak orang. Platform ini berpotensi besar di kota-kota padat seperti Jakarta atau Surabaya, membantu menghemat pengeluaran rumah tangga hingga 20-30% untuk barang jarang dipakai.
Juara 2: Bio Sound Panel – Peredam Suara Ramah Lingkungan dari Limbah Sawit
Tim dari SMKN 3 Mandau, Riau, merebut posisi kedua melalui Bio Sound Panel. Produk ini merupakan panel akustik yang mengolah limbah janjang kelapa sawit menjadi material peredam suara berkualitas tinggi.
Riau sebagai penghasil sawit terbesar menghadapi masalah limbah tandan kosong yang sering dibakar atau dibiarkan membusuk. Tim mengubah serat limbah tersebut menjadi panel dengan sifat akustik alami. Proses produksi melibatkan pencacahan serat, pencampuran binder alami, lalu pengepresan menjadi lembaran.
Bio Sound Panel efektif meredam suara hingga 50-60 desibel, setara panel konvensional dari busa sintetis atau rockwool. Keunggulannya terletak pada sifat biodegradable dan bebas bahan kimia berbahaya. Produk ini cocok untuk studio musik, ruang kelas, atau perkantoran di daerah industri.
Inovasi ini mengurangi polusi udara dari pembakaran limbah sawit sekaligus menciptakan lapangan kerja lokal. Panel ini lebih murah 30-40% daripada produk impor dan mendukung transisi hijau industri sawit nasional.
Juara 3: Rumpaper – Kertas Alternatif dari Limbah Rumput Teki
SMA Unggulan CTARSA Foundation Deli Serdang menempati juara ketiga dengan Rumpaper. Inovasi ini menghasilkan kertas ramah lingkungan dari limbah rumput teki (Cyperus rotundus), gulma invasif yang mengganggu pertanian.
Rumput teki tumbuh liar dan sulit diberantas. Tim mengolah batang dan daunnya menjadi pulp tanpa pemutih kimia berat. Hasilnya adalah kertas kuat, tahan air sedang, serta bertekstur alami cocok untuk kemasan, stationery, atau seni kerajinan.
Proses produksi sederhana: panen rumput, pencacahan, perebusan alami, penggilingan, lalu pencetakan. Rumpaper mengurangi ketergantungan pada pulp kayu yang menyebabkan deforestasi. Satu hektar rumput teki bisa menghasilkan pulp setara puluhan pohon.
Di Sumatra Utara, inovasi ini membantu petani mengelola gulma sekaligus memberi nilai ekonomi. Rumpaper bebas lignin tinggi, sehingga lebih mudah terurai dan cocok sebagai pengganti plastik sekali pakai untuk wrapping.
Mengapa Inovasi Ini Penting bagi Indonesia
Ketiga pemenang CTARSA Youth Greenovation 2026 menunjukkan pelajar mampu memberikan solusi konkret. Pinjam Barang mempromosikan gaya hidup minimalis. Bio Sound Panel mendukung industri sawit berkelanjutan. Rumpaper menawarkan alternatif material di tengah krisis kertas global.
Inovasi serupa telah sukses di dunia, seperti aplikasi sharing Tool Library di Eropa atau kertas dari elephant grass di Afrika. Di Indonesia, karya ini selaras dengan target net zero emission 2060 dan bisa dikomersialkan melalui inkubator startup.
Pemerintah dan swasta perlu mendukung dengan pendanaan lanjutan agar ide-ide ini tidak berhenti di kompetisi.
Ketiga pemenang membuktikan bahwa inovasi hijau lahir dari masalah sehari-hari. Mereka menginspirasi ribuan pelajar lain untuk berkarya.
Ikuti terus perkembangan pemenang CTARSA Youth Greenovation 2026 dan dukung generasi muda Indonesia. Siapa tahu, ide Anda bisa menjadi pemenang berikutnya!
